Saran Shalat Tahiyatul Masjid

Berikut pelajaran penting dari Imam Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Sholihin mengenai shalat tahiyatul masjid. Ada manfaat-faedah bernilai yang dapat diambil dari hadits-hadits mengenai tahiyatul masjid.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail

بَابُ الحَثِّ عَلَى صَلاَةِ تَحِيَّةِ المَسْجِدِ بِرَكْعَتَيْنِ وَكَرَاهَةِ الجُلُوْسِ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ فِي أَيِّ وَقْتٍ دَخَلَ وَسَوَاءٌ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ بِنِيَّةِ التَّحِيَّةِ أَوْ صَلاَةٍ فَرِيْضَةٍ أَوْ سُنَّةٍ رَاتِبَةٍ أَوْ غَيْرِهَا

208. Bab Saran Shalat Tahiyatul Masjid Dua Rakaat serta Makruhnya Duduk Sebelum Shalat Dua Rakaat pada Waktu Kapan Saja Dia Masuk Masjid, Baik Dia Shalat Dua Rakaat dengan Kemauan Tahiyatul Masjid atau Shalat Harus, atau Sunnah Rawatib, atau yang Yang lain

Hadits #1144

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( إِذَا دَخَلَ أحَدُكُمُ المَسْجِدَ ، فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ) ) متفقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bila salah seorang antara kalian masuk masjid, karena itu jangan sampai dia langsung duduk sampai kerjakan shalat dua rakaat.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 444 serta Muslim, no. 714]

Manfaat Hadits

Hadits ini memperlihatkan saran untuk melakukan shalat dua rakaat saat masuk masjid, dapat dengan shalat harus, niatan shalat tahiyatul masjid, atau shalat rawatib.

Sebagian besar ulama (jumhur) memiliki pendapat jika shalat tahiyatul masjid dihukumi sunnah (bukan harus).

Shalat tahiyatul masjid masih diizinkan walau di saat terlarang untuk shalat (seperti bada Shubuh atau bada Ashar). Berikut sebagai opini madzhab Imam Syafi’i serta Imam Ahmad dalam salah satunya opini.

Bila seorang masuk masjid lalu dalam tempo dekat masuk kembali lagi, karena itu disarankan shalat tahiyatul masjid berkali-kali. Demikian salah satunya opini dalam madzhab Syafi’i.

Hadits #1145

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : أَتَيْتُ النَِّبيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ فِي المَسْجِدِ ، فَقَالَ:((صَلِّ رَكْعَتَيْنِ) ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Saya datangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta beliau ada di masjid. Beliau bersabda saat itu, ‘Lakukanlah shalat dua rakaat.'” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 443 serta Muslim, no. 715]

Manfaat Hadits

Hadits ini memperlihatkan saran shalat tahiyatul masjid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari pengetahuan dengan memerintah teman dekat mengaplikasikan pengetahuan.

Beberapa Catatan Mengenai Shalat Tahiyatul Masjid

Beberapa ulama setuju akan dianjurkannya shalat tahiyatul masjid serta dimakruhkan tidak untuk lakukan tahiyatul masjid saat tidak ada uzur.

Shalat tahiyatul masjid itu dua rakaat. Bila ada yang shalat tahiyatul masjid lebih dari pada dua rakaat dengan sekali salam, masih diizinkan serta dipandang termasuk juga dalam tahiyatul masjid sebab dua rakaat telah masuk didalamnya.

Bila memiliki bentuk saat masuk masjid ialah shalat mayat, sujud tilawah, sujud sukur, atau shalat cuma satu rakaat, tidak disebutkan lakukan tahiyatul masjid.

Ulama Syafi’iyah menjelaskan jika shalat tahiyatul masjid tidak perlu dengan kemauan tahiyatul masjid, seandainya shalat mutlak dua rakaat, atau punya niat dua rakaat shalat rawatib, atau dua rakaat shalat non-rawatib, atau shalat fardhu (adaan atau qadha’an atau nazar), karena itu diizinkan serta dipandang memperoleh apakah yang diniatkan.

Ulama Syafi’iyah menjelaskan bila seorang punya niat shalat fardhu serta tahiyatul masjid sekaligus juga, atau shalat rawatib serta tahiyatul masjid sekaligus juga, karena itu dia memperoleh pahala tahiyatul masjid.

Bila seorang berkali-kali masuk masjid pada sebuah jam, karena itu disunnahkan shalat tahiyatul masjid setiap saat masuk.

Saat masuk Masjidil Haram, disunnahkan langsung lakukan thawaf (itu semakin afdal) dibandingkan menyibukkan diri dengan shalat tahiyatul masjid.

Saat masuk masjid serta imam telah naik mimbar khutbah Jumat, karena itu tidak langsung duduk tetapi kerjakan shalat tahiyatul masjid dengan rakaat yang mudah.

Bila duduk telah kelamaan saat masuk masjid serta tidak kerjakan shalat tahiyatul masjid terlebih dulu, karena itu shalat itu jadi lepas.

Tidak ada qadha untuk shalat tahiyatul masjid yang lepas.

Baca juga: Kontraktor Kubah Masjid Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *